Surat 6 Khahlil Giran untuk Mayziadah

    Engkau selalu ada dalam pikiranku sejak aku menulis surat yang terakhir kepadamu. Berjam-jam lamanya aku memikirkanmu, berbicara denganmu, berusaha menemui rahasiamu, mencoba menguraikan rahasiamu. Namun demikian, kiranya masih mengherankan bahwa aku masihmerasakan kehadiran Diri Pribadimu (rohaniah) di sanggarku. mengamati segala gerak-gerikku, berbicara, dan bertukar pendapat dengan kau, dan memberikan pandangan terhadap apa yang kulakukan.

    Sudah barang tentu engkau heram mendengarkan kata-kataku seperti ini; aku sendiri merasa aneh karena merasakan dorangan dan perlunya menulis surat ini. aku ingin hal itu dapat memungkinkan diriku memahami rahasia yang tersembunyi dibalik keperluan ini.

    Pernah engkau berkata bahwa "Selalu ada dialetika antara akal dan keadaan yang saling mempengaruhi dalam pikiran, yang (keduanya) berada diluar jangkauwan kewaspadaan; dan masing-masing tidak dapat menghilangkan keadaan yang saling mempengaruhi dan dialetika itu dari akal dan pikiran meraka yang setanah air."

     Dalam kalimatmu yang indah ini terkandung kebenaran yang mendasar, yang kulihat melalui sejenis pengenalan terhadap jiwa seseorang, tapi sekarang tampak jelas memlalui pengalaman priadi.  Baru-baru ini aku membuat satu hubungan yang mujarad, sangat halus, dan tidak seperti sifat dan watak hubungan yang lain, hubungan ini tidak dapat dibandingkan dengan hubungan kekeluargaan yang alami, hubungan yang benar-benar jauh lebih kukuh, kuat, dan tetap, bahkan melebihi hubungan batin.

`Tak seutaspun dari benang-benang yang menjalin hubungan--yang terenyam oleh siang dan malam yang mengatur waktu-dapat menyisihkan jarak yang memisahkan ayunan bayi dari kuburan. Takseutaspun benang yang tak dianyam oleh kepentingan masa lalu atau cita-cita masa depan. 

    Dalam hubungan semacam itu, Kau, merupakan lagu yang hening dan sunyi, dan hanya terdengar  dalam kesepian malam; melambung kita ke seberang wilayah hari, ke seberang wilayah malam, ke seberang waktu, ke seberang kebakaran.   

    Perasaan itu, bagai cubitan yang terasa terus menerus, tapi amat menyenangkan, dan tak ingin hilang, bahkan selagi kita mengalami kejayaan dan kenikmatan, seperti yang pernah kita rasakan dan bayangkan. 

    Hal tersebut diatas merupakan usaha untuk hubungan denganmu yang tak dapat dihubungi oleh seseorang selain dia yang satu engalam denganmu. Karena itu, jika aku menguraikan rahasia yang tidak kau kenal sendiri. maka aku merupakan salah seorang diantara mereka yang menerima anugrah dan Hidup, yang memberi izin di depan singgasana Putih; tapi jika aku harus menguraikannya sebagai sesuatu yang khas dalam diriku, maka biarlah api membakar surat ini.

    Kumohon, sahabarku,tulislah surat kepdaku; kumohon engkau menulis dengan semangat yang bebas, mandiri dan bersayap sehingga dapat membubung mengatasi kodrat kemanusiaan, Engkau dan aku mengenal sekali perihal kemanusiaan, perihal kepentingan yang mendekatkan sesama manusia, dan perihal kenyataan yang membuatnya terpisah.

    Tidak bolehlah kita menyisih dari jalan yang sudah usang itu, dan tidak bolehkah kita berhenti sejenak guna memandang wilayah yang terletak di seberang malam, di seberang siang, diseberang waktu, diseberang keabadian?

    Semoga Tuhan melindungimu, dan  semoga menjagamu selalu.


Temanmu yang sejati,


Komentar